Gastrooesepageal Refluks, Muntah dan Alergi Pada Bayi Saat Menyusui

Spread the love

 

Gastrooesepageal Refluks, Muntah dan Alergi Pada Bayi Saat Menyusui

Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan

 
 
  • Andi, laki-laki usia 4 bulan sejak lahir hingga sekarang , sering mengalami muntah, meski dengan pertambahan usia berangsur berkurang.  Selain itu bayi tersebut sering rewel atau sering seperti minta gendong atu minta minum terus menerus seperti haus. Beberapa dokter memberikan obat muntah tetapi ternyata obat ini hanya bersifat sesaat, begitu obat dighentikan gangguan tersebut akan timbul lagi. Gangguan GER yang disebabkan karena imaturitas saluran cerna akan membaik dengan pertambahan usia. Pada sebagaian kasus lagi akan menetap hingga dewasa. Setelah itu dokter mengadviskan untuk dilakukan penanganan alergi dan hipersensitifitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan muntah membaik,  daya tahan tubuhnya semakin  dan beberapa keluhan lainnya  yang menyertai membaik.

Amati Gangguan Gastroesophageal Refluks dan Sering muntah  pada anak anda

  • Pada usia bayi di bawah 6 bulan sering muntah dan gumoh. Setelah usia 6 bulan hingga 2 tahun berkurang. Pada kasus tertentu membaik setelah usia 5 – 7 tahun
  • Muntah atau mual timbul saat berlari, menangis, batuk, memasukkan tangan ke mulut, tercium bau tajam  (bau tidak enak, bau amis  atau terlalu wangi)

Gangguan lain yang sering Menyertai

  • Gangguan mengunyah menelan :  Tidak menyukai variasi banyak makanan, tidak mau makan nasi hanya minum susu. Sering pilih-pilih makanan. Makanan yang disukai adalah makanan yang gampang dikunyah seperti telor, mi, krupuk, biskuit, brokoli, wortel. tetapi makanan yang berserat seperti daging sapi, sayur, atau nasi lebih tidak disukai.
  • Sebagian Besar kasus anak berat badannya lebih atau kegemukan sebagian kecil lainnya sebaliknya sulit naik berat badan
  • Gangguan Motorik kasar dan keseimbangan
  • Gangguan sensoris :  sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Emosi tinggi, keras kepala (sering membantah) dan gangguan konsentrasi

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

(Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
BACA  20 Tanda Bayi Haus 
KOMPLIKASI SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu atau mengalami Infeksi Telinga
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
 
Bila tanda dan gejala  Gastrooesepageal Refluks (GER) atau Sering Muntah pada anak tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin Gastrooesepageal Refluks (GER) atau
Sering Muntah pada anak disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.
 
Penyebab lain yang memperberat  Gastrooesepageal Refluks (GER) atau Sering Muntah Pada Anak adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek, diare atau muntah dan infeksi lainnya
 
Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis Gastrooesepageal Refluks (GER) atau Sering Muntah Pada Anak yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
BACA  10 Fakta Yang harus Ayah Ketahui Tentang Kehebatan Menyusui

PENANGANAN

  • Penanganan Gastrooesepageal Refluks (GER) atau Sering Muntah Pada Anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila gangguan pada pada bayi tersebut bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengann berbagai gangguan tersebut  adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.
  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.
BACA  Rekomendasi WHO Menyusui atau laktasi Saat Pandemi Covid19

Obat

  • Pengobatan Gastrooesepageal Refluks (GER) atau Sering Muntah Pada bayi karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan saluran cerna atau penahan muntah, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani Gastrooesepageal Refluks (GER) atau Sering Muntah pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.
  • Obat-obatan yang sering dipakai untuk GER adalah Antasid, Aluminium hidroksida (ALternaGEL, Amphojel).Antagonis Reseptor H2 seperti Ranitidine (Zantac) Cimetidine (Tagamet) Nizatidine (Axid). Obat-obatan Prokinetik seperti Metokloprami, Domperidon. Cisapride, Sukralfat (Aluminium hidroksida + sukrosa oktasulfat).  Penghambat Pompa Proton (PPI/Proton Pumb Inhibitor) yangmerupakan drug of choice dalam pengobatan GERD seperti omeprazole (Prilosec), lansoprazole (Prevacid), rabeprazole (Aciphex), dan esomeprazole (Nexium).  Omeprazole (Prilosec), Lansoprazole (Prevacid), Rabeprazole (Aciphex), Esomeprazole (Nexium), Pantoprazole (Protonix), Namun obat ini hanya bersifat sementara, selama penyebab alergi tidak diindentifikasi dan dihindari hanya mengurngai gejala. Begitu obat dihentikan keluhan akan timbul lagi selama masih ada faktor penyebab dan pemicunya. Pemberian obat jangka pajang adalah bentuk kegagalan mencari penyebabnya.

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *